RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Doa untuk Pemimpin Negeri

Setelah kita melihat hasil Pemilu saat ini, tugas kita adalah terus berdoa, moga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan amanat.

Doa Mustajab untuk Pemimpin Negeri

Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”
Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)

Tetap Taat pada Pemimpin

Apa pun hasil dalam Pemilu Caleg dan Presiden nanti, maka tetaplah taat pada pemimpin tersebut.
الْمَصْلَحَةُ الْعَامَّةُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الْمَصْلَحَةِ الْخَاصَّةِ
“Kemaslahatan umum lebih didahulukan daripada kemaslahatan pribadi.” (Al-Muwafaqot 6: 123 karya Asy Syathibi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan,
عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144  dan Muslim no. 1839)
Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)

Pemimpin adalah Cerminan dari Rakyat, Sadarlah!

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.” (catatan: Ungkapan ini dijadikan sebagai judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi)
Alkisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” Sahabat Ali Menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!” (Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin)

Doa untuk Pemimpin Negeri

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ
Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Teks Khutbah Jum’at di Masjid Sudirman Panggang, Gunungkidul, 11 Jumadats Tsaniyah 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber Artikel Rumaysho.Com

Minggu, 29 September 2013

TABLIGH AKBAR INDAHNYA NIKMAT KEAMANAN SEBUAH NEGERI

Insya Alloh…Purworejo 10 November 2013 JAM 08.30 SD SELESAI
TABLIGH AKBAR DAN KAJIAN ILMIYAH bersama Polres Purworejo “INDAHNYA NIKMAT KEAMANAN SEBUAH NEGERI” bersama al Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin,Lc di Masjid Sakinah Tanuprayan Loano -pinggir jalan raya Magelang-purworejo..terbuka Untuk UMUM putra dan putri cp.085729912875



Sumber : http://muslimpurworejo.wordpress.com/2013/09/27/tabligh-akbar-indahnya-nikmat-keamanan-sebuah-negeri/

Minggu, 07 November 2010

Ikrimah Bekas Budah Yang Menjadi Pakar Tafsir

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Beliau rahimahullah mengatakan, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” Nama beliau adalah ‘Ikrimah Al Qurosyi Al Hasyimi, bekas budak Ibnu ‘Abbas. Nama kunyah[1] beliau adalah Abu ‘Abdillah. Asal beliau dari Barbar, penduduk Maghrib. Beliau termasuk golongan tabi’in pertengahan. Beliau adalah seorang pakar tafsir terkemuka.[2] ‘Ikrimah memiliki sanad dari Ibnu ‘Amr, Ibnu ‘Abbas, Abu Sa’id, Abu Hurairah, Al Husain bin ‘Ali dan ‘Aisyah.
Dari Kholid As Sikhtiyani, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Aku telah bertemu dengan ratusan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid ini (Masjid Nabawi).”
Ketika sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meninggal dunia ‘Ikrimah masih menjadi seorang budak. Lalu Kholid bin Yazid bin Mu’awiyah membelinya dari ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas (anak Ibnu ‘Abbas). Kholid membelinya seharga 4000 dinar. Kemudian berita ini pun sampai pada ‘Ikrimah. Lantas ‘Ikrimah bersegera mendatangi ‘Ali –anak Ibnu ‘Abbas-, lalu berkata, “Apakah engkau menjual ilmu ayahmu sebesar 4000 dinar?” Kemudian ‘Ali menyerahkan ‘Ikrimah pada Kholid. Kholid pun akhirnya memerdekakan ‘Ikrimah.
Keadaan ‘Ikrimah Ketika Belajar dengan Ibnu ‘Abbas
Agar mau belajar Al Qur’an dan hadits, ‘Ikrimah dipaksa oleh Ibnu ‘Abbas dengan cara kakinya diikat.
Dari Az Zubair bin Al Khirrit –seorang tabi’in junior-, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Ibnu ‘Abbas membelenggu kakiku, lalu beliau mengajariku Al Qur’an dan hadits Nabi.”
Penilaian Para Ulama Terhadap ‘Ikrimah
Dari Jabir bin Zaid –seorang tabi’in-, beliau mengatakan, “’Ikrimah adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia saat ini.”
Asy Sya’bi –seorang tabi’in- mengatakan, “Tidak ada manusia yang lebih memahami Kitabullah (Al Qur’an) selain ‘Ikrimah.”
Qotadah As Sadusi –seorang tabi’in- mengatakan, “Orang yang paling memahami tafsir di antara manusia saat ini adalah ‘Ikrimah.”
Nasehat Berharga dari ‘Ikrimah
Beliau memiliki nasehat agar kita bisa memiliki akhlaq yang mulia karena akhlaq mulia adalah landasan Islam. Ibrahim mengatakan dari ayahnya bahwa ‘Ikrimah berkata,
لِكُلِّ شَيْءٍ أَسَاسٌ، وَأَسَاسُ الإِسْلاَمِ الخُلْقُ الحَسَنُ.
Segala sesuatu memiliki landasan (asas). Sedangkan asas Islam adalah husnul khuluq (akhlaq yang luhur).”
Wafat Beliau
‘Ikrimah meninggal dunia di Madinah dalam usia 80 tahun. Beliau meninggal tahun 104 H. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau meninggal tahun 105, 106, atau 107 H.
Ketika beliau meninggal dunia, manusia pun mengatakan, “Orang yang paling faqih dan paling berilmu telah meninggal dunia.”
[Diolah dari Shifatush Shofwah, Ibnul Jauziy, 2/103-105, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]

Muhammad Abduh Tuasikal
Diselesaikan ba’da shalat Zhuhur, di Panggang - Gunung Kidul, 20 Dzulhijah 1430 H



[1] Nama kunyah adalah nama yang didahului “Abu” atau “Ummu”, ada pula yang mengatakan “Ibnu”.
[2] Lihat Rowatut Tahdzib, Asy Syamilah